24/11/2017

Waspada Gerakan Radikal Masuk Ke Ranah Suku Di Sumut

Baru-baru ini, Mandailing mendeklarasikan bahwa Mandailing bukan Batak, hal tersebutpun viral di media sosial. Tak lama kemudian, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai Forum Runggu Masyarakat Karo (FRMK) terang-terangan membentangkan spanduk bertuliskan Karo Bukan Batak di sejumlah titik lokasi strategis kota Medan yang kemudian viral di sosial media.

Beredarnya foto aksi pemasangan spanduk yang bertuliskan Karo Buka Batak, sontak menjadi sorotan yang menimbulkan reaksi kotroversi di kalangan warga net. Gerakan yang konon kataya bertujuan meluruskan sejarah itu, sudah lama di gagas oleh sejumlah pemuda Karo, baik diskusi secara offline maupun diskusi lewat dunia maya menggunakan media sosial.

Berdasarkan keterangan Alfonso Ginting, salah satu penggagas pemasangan spanduk sebagaimana dilansir dari media online Sipayo, menyatakan bahwa aksi ini dilakukan dalam upaya nyata untuk menyamapikan kepada publik bahwa gerakan Karo Bukan Batak yang mereka gagas tidak hanya dalam tatanan diskusi di dunia maya.

Menurutnya Suku Karo berbeda dengan Suku Batak. Artinya Karo bukan bagian dari sub entik Batak yang selama ini banyak beredar di kalangan masyarakat.
Sejumlah perdebatanpun tak bisa dihindari, seperti yang terjadi di salah satu grup facebook yakni grup Rumah Masyarakat Karo, salah satu anggota grup tak tanggung-tanggung beropini bahwa dalam waktu dekat, kemungkinan gerakan tersebut akan melayangkan surat protes terkait isi prasasti 5 Suku yang terdapat di Sianjur Mulamula, karena mereka menilai bahwa penulisan 5 Suku Sianjur Mulamula, Mulani Halak Batak yang didalamnya terdapat Batak Karo adalah tidak berdasar.

Hal tersebut dilontarkan oleh pengguna facebook yang juga merupakan anggota grup RMK dengan nama akun Paul Kennedy Bangun menanggapi sejumlah komentar lainya yang tengah berdebat dalam diskusi grup atas sebuah postingan anggota grup tersebut.
Sejauh ini, perdebatan terkait viralnya foto pemasangan spanduk Batak Bukan Karo itu, masih terus berlanjut.

Belum diketahui pasti apa tujuan maupun motif dari gerakan Batak Bukan Karo dimaksud, sekalipun dijelaskan oleh sejumlah pihak bahwa gerakan dimaksud bertujuan untuk meluruskan sejarah dan mencari jatidiri. Namun tidak sedikit warga net meyakini gerakan itu sedang dan atau bakal di tungguangi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk menimbulkan konflik baru berbau suku di daerah Sumatera Utara.

Belum lagi dalam waktu dekat daerah Sumatera Utara turut melaksanakan Pilkada yakni pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2018 mendatang.
Melalui akun facebooknya, Juliadi Kaban juga menghimbau agar hal tersebut tidak menimbulkan polemik baru di daerah Sumut "Kami sebagai MASYARAKAT PENDUKUNG BATAK KARO mengecam keras pemasangan sepanduk yang kami anggap hanya menimbulkan KONFLIK SARA dan MEMUNCULKAN PERTIKAIAN harapan kami kepada pihak yang BERWAJIB pihak KEPOLISIAN REPOBLIK INDONESIA mengusut PEMASANGAN SEPANDUK ini."

Selama ini, hubungan antar etnis di daerah Sumut cukup dikenal dengan hubungan sosial yang akur, khususnya Karo dan Batak maupun dengan etnis lainnya. Namun akhir-akhir ini, pernyataan bahka deklarasi yang menjurus ke dalam bentuk perpecahan suku Batak kian gencar dimuculkan melalui media sosial. Walau secara umum, tindakan tersebut sebetulnya tidak serta merta menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak.

Namun hal ini bisa jadi sengaja di gunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengusik kedamaian antar etnis di Sumatera Utara. Bahkan tidak sedikit warga Sumut menilai gerakan-gerakan tersebut akan di manfaatkan oleh kelompok radikal untuk menimbulkan perecahan dalam persaudaraan antar suku yang selama ini terjalin dengan baik di Sumatera Utara dengan embel-embel sejarah.

Artikel Terkait

Untuk kritik dan saran terkait tulisan ini, hubungi kami melalui kotak yang tersedia. Salam Bonapasogit. Terimakasih