Tuesday, 22 May 2018

Jadi DPO, Parulian Situngkir Diduga Melarikan Diri Ke Medan

Parulian Situngkir, warga Desa Situngkir Kab.Samosir hingga saat ini masih dalam daftar pencarian orang (DPO). Parulian Situngkir terlibat kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur atau siswi Sekolah Dasar kelas 3 (SD).

Sesuai informasi yang disampaikan oleh Leo Situmorang melalui akun facebooknya, pelaku melakukan aksinya pada tanggal 28 Februari 2018 di daerah Sinapuran.

Diduga, pelaku mencegat korban di jalan ketika korban hendak pulang dari sekolah menuju rumah korban.
Korban sendiri sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani sejumlah test atau pemeriksaan.
Namun kasus yang menimpa anak dibawah umur tersebut, hingga kini tak kunjung tuntas karena pelaku melarikan diri.


Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Samosir Ria Rosa Malau atau yang akrab dipanggil Ria Paradea Malau, melalui akun facebooknya kembali membagikan informasi terkait Parulian Situngkir yang masih berstatus DPO. Ria juga menghimbau agar pihak yang melihat atau mengetahui keberadaan pelaku (PS) segera melaporkan melalui kontak maupun aparat Kepolisian.
Berikut informasi yang disampaikan Ria Paradea Malau yang di publikasikan melalui akun facebooknya.

D I C A R I
Bagi semua sahabat,
yang menemukan orang ini :
Nama : Parulian Situngkir
Alamat tinggal : Desa Situngkir
Dia telah melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak saat anak pulang sekolah, mereka dicegat di jalan. Korban pelecehan seksual adalah anak perempuan kelas 3 SD.
Pelaku diduga melarikan diri ke Medan di sekitaran Jalan Pancing dan Padang Bulan.
Bila ada yang mengetahui keberadaannya mohon hubungi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia cabang Samosir dengan nomor tlp 081370053999 atau melaporkan kepada Lpa Sumatera Utara John Hutajulu
Dapat juga melaporkannya pada kantor Polisi terdekat atau Polres Samosir agar kasus ini dapat dengan cepat ditindak lanjuti dan diproses secara hukum yang berlaku di republik ini.
Terimakasih
Horas,
Tim LPAI Samosir

Begini Kondisi Fajar Sagala Mahasiswa STAN Asal Huta Ginjang Samosir Yang Sakit Sejak Desember 2017 Lalu.

Fajar Sagala, remaja berusia 18 tahun yang tinggal di Hutaginjang Kabupaten Samosir ini, adalah alumni SMA Negeri 1 Pangururan. Fajar Sagala juga merupakan salah satu dari dua lulusan SLTA di Kabupaten Samosir tahun 2017 yang berhasil masuk ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Fajar Sagala adalah anak dari seorang petani dengan ibu yang memiliki usaha kecil yakni kedai kecil. Semangat dan kegigihan Fajar Sagala dalam meraih masa depan yang lebih baik, terbukti dari keberhasilan Fajar Sagala yang berhasil masuk ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Namun langkah Fajar Sagala untuk mewujudkan impiannya mengharumkan nama baik keluarga dan Kabupaten Samosir mulai terhenti sejak bulan Desember 2017 lalu.
Desember 2017, Fajar Sagala pulang ke kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga yang ia cintai. Akan tetapi hal yang tak terduga terjadi pada Fajar Sagala, dimana ia merasakan kesakitan pada bagian kaki kanannya dan dalam waktu yang tak begitu lama, kaki Fajar Sagala mengalami pembengkakan. Kemudian keluarga Fajar Sagala membawanya ke salah satu rumah sakit untuk diperiksa. Sesuai hasil pemeriksaan dokter, Fajar Sagala divonis mengalami kangker tulang.

Dengan berbagai usaha, kedua orang tua Fajar Sagala membawanya berobat. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kaki Fajar Sagala semakin membengkak hingga Fajar Sagala tak bisa berjalan. Proses pengobatan Fajar Sagala mulai mengalami kendala, dimana kedua orang tua Fajar Sagala kehabisan dana untuk membiayai pengotan Fajar Sagala yang masih memiliki 3 orang adik yang masih duduk di bangku sekolah SLTP, SD dan PAUD sementara abang dari Fajar Sagala juga tengah menjalani tugas akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di Palangkaraya.

Melihat kondisi tersbut, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kabupaten Samosir mencoba membantu keluarga Fajar Sagala dengan melakukan penggalangan dana yang dapat disampaikan secara langsung maupun melalui rekening dan LK3 Kabupaten Samosir. Penggalangan dana untuk membantu keluarga Fajar Sagala dalam membiayai pengobatannya, mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Lewat situs Kita Bisa, penggalangan dana untuk Fajar Sagala mengalir deras hingga dalam tempo yang cukup cepat, sejumlah dana dapat terkumpul.
Selain melalui situs Kita Bisa, empati dari berbagai kalangan masyarakat juga mengalir kepada keluarga Fajar Sagala, mulai dari Ikatan Alumni Beacukai Indonesia dari STAN, Alumni SMAN 1 Pangururan, SMP N 1 Pangururan  dan pihak-pihak lain yang dengan sengan hati turut membantu meringankan beban keluarga Fajar Sagala.

Melalui media sosial facebook, wanita berparas cantik pemilik akun facebook Ria Paradea Malau atau Ria Rosa Malau (Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kabupaten Samosir), perkembangan terkait proses pengobatan Fajar Sagala dan juga informasi tentang hasil penggalangan dana yang sudah disampaikan kepada pihak keluarga Fajar Maulu terus di perbaharui (update). Saat ini, Fajar Sagala tengah menjalani proses pengobatan di salah satu RSUD menunggu proses pengobatan lanjutan yang nantinya akan di sampaikan oleh Ria Rosa Malau (Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kabupaten Samosir). Mudah-mudahan semangat dan dukungan moral maupun material yang diberikan oleh pihak-pihak yang bersedia membantu Fajar Sagala mampu membawa kesembuhan penyakit Fajar Sagala sehingga Fajar Sagala dapat kembali menggapai impiannya di masa mendatang.
Dan bagi anda yang berkenan membantu Fajar Sagala, dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening : BRI 2082-01-004945-539 An.LK3 KABUPATEN SAMOSIR atau untuk informasi lebih lengkap, anda dapat menghubungi Cp : Tetti Naibaho 081268290167 dan Hotsri Shanty Tamba 082231105837.

Memberikan Bantuan Bagi Yang Membutuhkan.
Bukan Karena Kita Berlebihan
Tetapi Membantu Orang Lemah Yang Sangat Membutuhkan, Lebih Karena Kita Tergerak
Oleh Rasa Kemanuasiaan Untuk Saling Menolong.

Radja Nainggolan Batal Masuk Timnas Belgia Piala Dunia 2018

Gelandang AS Roma Radja Nainggolan, batal masuk dalam daftar pemain Tim Nasional Belgia untuk perhelatan akbar sepak bola Piala Dunia 2016 yang akan berlangsung pada bulan Juni 2018 mendatang di Rusia.
Bintang sepak bola dari Belgia berdarah Batak Toba ini, tidak di ikutsertakan oleh pelatih Roberto Martinez dengan alasan karena keputusan taktik.

Dikutip dari media online Tempo. Manager Timnas Belgia menyebutkan "Tidak ada keraguan mengenai popularitas Radja Nainggolan di antara para penggemar Belgia, menyusul peran kuncinya di Piala Eropa 2016, namun pelatih harus siap untuk mengambil keputusan-keputusan sulit demi kebaikan tim"
Martinez juga menyebutkan Radja Nainggolan tidak dapat menawarinya peran serupa di tim Belgia. "Kami tahu bahwa Radja memiliki peran yang sangat penting di klubnya dan kami tidak memberinya peran itu di skuad kami," ungkap Martinez kepada para pewarta.

Kiprah Radja Nainggolan dalam membawa AS Roma melaju ke semifinal liga Champions tahun ini sepertinya belom mampu membawa penharuh besar bagi Martinez, sehingga nama Rarja Nainggolan batal masuk kedalam daftar nama Timnas Belgia yang baru-baru ini diumumkan jelang Piala Dunia 2018.

Monday, 21 May 2018

Singkong Raksasa Dari Simanindo Kabupaten Samosir

Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur di daerah tropika maupun subtropika. Sebagai tanamam yang memiliki aneka ragam manfaat ini, singkong atau gadong dalam bahasa batak toba, dahulu menjadi salah satu bagian makan pokok atau dikonsumsi sebelum makan nasi.
Tanaman yang dapat di olah untuk aneka ragam makanan ini, cukup mudah berkembang, hanya dengan menanam batang ketela pohon, dalam waktu yang relatif tak lama akan tumbuh dan menghasilkan.

Namun beberapa tahun belakangan ini, tanaman singkong atau ubi kayu mulai mengalami penurunan produktifitas di Bonapasogit khususnya Samosir. Selain faktor pemasaran yang masih kecil, keberadaan babi hutan yang sering merusak tanaman singkong diduga menjadi salah satu faktor penyebab malasnya para petani untuk menanam ubi hingga menimbulkan kelangkaan singkong di Bonapasogit.


Melalui metode baru yang diperoleh para petani dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kabupaten Samosir, pengembangan pertanian khususnya untuk tanaman singkong dengan menggunakan metode demplot, menjadi salah satu langkah tepat bagi para petani untuk memperoleh hasil penanamam ubi kayu yang lebih baik.

Baru-baru ini, Petani Simanindo berhasil menerapkan metode baru tersebut. Dibantu oleh para Petugas  Penyuluh Lapangan (PPL)  Pertanian Kabupaten Samosir, petani dari Simanindo Samosir memamerkan buah singkong berukuran besar yang memiliki panjang hampir 2 meter. Singkong dengan variates unggul baru tersebut tentu akan lebih berpeluang mendapatkan pangsa pasar yang lebih baik dan mampu memenuhi kebutuhan pasar di Bonapasogit yang dalam beberapa tahun belakangan ini sempat mengalami kelangkaan.

Foto: Pemkab Samosir Fb.

Sunday, 20 May 2018

Ada Djarot Syaiful Hidayat di Sumatera Utara

Hadirnya Djarot Syaiful Hidayat dalam pertarungan Pilkada Sumatera Utara 2018, tak lepas dari satu garis politik Jokowi untuk membenahi Sumatera Utara. Proyeksi Sumatera Utara sebagai wilayah yang berpotensi tinggi dinilai sangat strategis bagi Pemerintahan Jokowi periode pertama, dan bila Jokowi terpilih lagi menjadi Presiden RI pada periode kedua 2019-2024 maka Sumatera Utara dimasukkan ke dalam wilayah paling strategis di utara Indonesia. Inilah arti penting penempatan Djarot di Sumatera Utara, sebagai satu tarikan nafas antara Jokowi, Djarot dan Sumatera Utara.

Ditunjuknya Djarot Syaiful Hidayat, oleh Ketua Umum Megawati, bukanlah tanpa sebab. Melalui proses penilaian internal , Djarot memiliki kualitas paling mumpuni dalam pengelolaan wilayah. Bila Bali kerap menjadi tanah kesayangan Megawati, Jawa Tengah adalah Kandang Banteng dimana PDI Perjuangan tidak boleh kalah disana, maka Sumatera Utara sudah masuk ke dalam laboratorium paling penting PDI Perjuangan dalam mengelola wilayah dengan baik, sebuah tantangan besar bagaimana PDI Perjuangan menghasilkan negarawan- negarawan yang bermula dari tingkat daerah lalu dimajukan ke tingkat nasional. 

Sumatera Utara adalah tantangan, bagaimana Provinsi yang sengkarut tatanan birokrasi dan gagal dalam mengembangkan potensi wilayah, menjadi Provinsi paling efektif birokrasinya dan mampu membangun hal-hal raksasa seperti Pelabuhan, Bandara, Transportasi Hasil Perkebunan dan banyak soal sehingga menjadi salah satu Provinsi terkaya di Indonesia, di tangan Djarot-lah tampaknya Megawati percaya bahwa Sumatera Utara adalah laboratorium tata wilayah untuk menguji coba ke-negarawanan seseorang.

Bayangkan dua Gubernur hasil Pilkada Sumut, dua-duanya masuk penjara seperti Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho. Tatanan birokrasi yang berantakan, permainan patgulipat anggaran daerah, penataan wilayah yang gagal visi,  gaya hidup mewah sebagian pejabat-pejabat dan isteri pejabat di Sumatera Utara, serta hubungan para pejabat dengan mafia-mafia proyek yang sudah menjebak terlalu lama birokrasi di Sumatera Utara. Membereskan soal birokrasi sama rumitnya membereskan soal perjudian di Medan, yang sudah menjadi legenda kepolisian di masa lalu. Inilah tugas Djarot mengatur Sumatera Utara.  

Djarot tidaklah sesederhana yang dilihat orang, tidaklah sesantai dengan gayanya bicaranya yang pelan dan suaranya khas itu. Ia punya karakter kepemimpinan, ia visioner dalam membangun wilayah, dan tak heran Majalah TEMPO di tahun 2008 mengangkat figur Djarot sebagai Kepala Daerah paling berprestasi bersama seseorang kepala daerah dari Solo, Joko Widodo namanya. Saat itu TEMPO mengangkat beberapa orang kepala daerah yang diharapkan dari mereka-mereka inilah masa depan Indonesia terjaga. Dan memang Joko Widodo melesat menjadi Presiden RI, sementara Djarot bertarung di DKI Jakarta lalu pindah ke Sumatera Utara. Negarawan-negarawan sedang diproduksi sebagai bagian dari politik “menjaga masa depan Indonesia”.

Talenta utama Djarot adalah kemampuan melihat struktur birokrasi, di tangannya ia mampu membentuk sistem manajemen progresif modern dimana setiap sel kerja birokrasi bekerja secara efektif. Sudah menjadi ciri khas para pembaharu pembaharu birokrasi selalu menyoroti sel kerja yang ramping sebagai bentuk cara cepat birokrasi melayani rakyat. Inilah yang dilakukan Jokowi, Risma, dan Djarot dalam membentuk sistem manajemen birokrasi cepat. Di Blitar, langkah pertama Djarot saat itu adalah merampingkan birokrasi, ia memecahkan akar permasalahan birokrasi adalah saling tumpang tindih pekerjaan, ketiadaan alur kerja yang jelas, dan tidak adanya target penyelesaian pekerjaan. Problem inilah yang kemudian menghambat arus kerja. Langkah pertama yang dilakukannya adalah melakukan proses rekrutmen dengan melibatkan tim dari Universitas Airlangga. Ia tidak melibatkan staf internal karena ingin adanya proses rekrutmen yang objektif. Masuknya tenaga-tenaga profesional, ia juga memangkas 200 pejabat eselon II-IV. Jabatan-jabatan yang tidak efektif dibiarkan kosong. Pelaporan pekerjaan dilakukan dengan sangat cepat dan efektif dalam penindakan masalah. Terbukti dalam 10 tahun hasil dari kinerja ini adalah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melonjak dari Rp. 2,5 Milyar menjadi Rp. 39,86 Milyar. Sementara Anggaran Pembangunan Kota Blitar melonjak tajam dari Rp.38,6 Milyar menjadi Rp. 387 Milyar. Daya serap sangat efektif dan Blitar dijadikan role model pembangunan dengan basis peningkatan indeks pembangunan manusia, disini Djarot mengembangkan talenta yang luar biasa : “Kesejahteraan manusia”.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur DKI, Djarot yang sudah dikenal punya talenta dalam soal soal kesejahteraan dia mendapatkan pekerjaan yang membangun soal fungsi sosial. Di DKI Jakarta ia mengembangkan model pembangunan perumahan rakyat untuk masyarakat berpendapatan rendah. Ia berhasil dengan konsep bedah rumah dan ia mengembangkan saluran dana dalam bedah rumah ini lewat CSR (Corporate Social Responsibility), konsep utama Djarot dalam soal CSR ini adalah dana bantuan sosial dikembalikan ke dalam fungsi sosialnya. Ini beda dengan banyak kelakuan pejabat pejabat yang diberi amanah rakyat, banyak CSR diselewengkan ke bansos-bansos yang sebenarnya lebih sebagai “uang jago politik”, oleh Djarot tidak boleh itu dilakukan “Kita Harus Berpuasa Saat Berkuasa” itu sumpah politiknya yang ia kerap ucapkan dalam pidato-pidato yang membangkitkan kesadaran bahwa “Berpolitik adalah Bekerja Untuk Rakyatmu”.

Sumatera Utara memiliki potensi besar. Bayangkan ada pelabuhan besar sedang dibangun disana, Pelabuhan Kuala Tanjung, dibelakang Pelabuhan Kuala Tanjung ada Portcity (kota pelabuhan) yang menjadi zona ekonomi eksekutif bila dikembangkan dengan baik jadi wilayah tersibuk di Asia Tenggara, kemudian ada bandara Kuala Namu, juga persiapan Airport City yang bisa menjadi bandara paling sibuk di wilayah utara Indonesia. Pengembangan antara wilayah Pelabuhan dan Bandara menjadikan Kota Medan sebagai pusat ekonomi paling sibuk di wilayah pelabuhan Asia Tenggara. Tapi hal ini tidak bisa dikembangkan bila tidak ada penataan yang tegas dalam kepemimpinan. Di masa lalu, kepemimpinan politik yang dihasilkan dalam pemilihan langsung tidak menghasilkan gagasan visioner menciptakan “Sumatera Utara Masa Depan”, mereka hanya sibuk dan berorientasi menjaga “uang jago politik” bisa berupa bansos ataupun patgulipat anggaran. Disinilah Djarot harus hadir dalam membenahi kekacauan-kekacauan itu, ketegasan soal birokrasi, rapat-rapat birokrasi yang terbuka, pembangkitan semangat partisipasi warga soal birokrasi wilayah sehingga rakyat mau menonton rapat-rapat Pemprov dan Pemda di Youtube seperti yang dilakukan Jokowi dan Ahok di DKI Jakarta. 

Menyebarkan anggaran terbuka di tiap tempat publik dan melakukan pembaharuan pembaharuan birokratis.
Sumatera Utara juga bukan soal ekonomi raksasa tapi juga soal manusia yang beragam budaya dan agama, latar belakang etnis namun tidak pernah ada problem SARA yang serius disana, karena Sumatera Utara sudah dikenal sebagai provinsi “Melting Pot” (percampuran berbagai suku bangsa yang heterogen tapi terlihat semakin homogen), kemampuan akulturasi ini dimiliki Djarot. Ia seorang Nasionalis, berlatar belakang Islam NU namun juga berpendidikan modern, ia berpandangan terbuka terhadap segala hal, tapi punya nilai-nilai yang hidup dalam dirinya yaitu : Kesetiaan.
Suatu saat Djarot digoda untuk keluar dari PDI Perjuangan oleh beberapa kelompok politik untuk menjadi bagian dari Non Parpol dalam Pilkada DKI 2017, jawaban Djarot singkat “Saya berjuang di PDIP dari masa Partai ini susah, Partai ini mengalami situasi berdarah-darah di masa Orde Baru, semua romantika sedih, senang, haru ada di Partai ini, lalu bagaimana bisa saya meninggalkan Partai ini hanya untuk sekedar memburu kekuasaan. Tujuan terbesar berPartai adalah bukan kamu mendapatkan apa, tapi bagaimana kamu bisa menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan politik yang mencerahkan dan membebaskan penderitaan rakyat banyak, itu ajaran Bung Karno yang saya pegang...”

Dan Djarot kini siap bertarung di Sumatera Utara. @Anton DH Nugrahanto.

Saturday, 19 May 2018

Oknum Kades Mengaku Miliki Pinus, Pengusaha Gunduli Hutan Martimbang.

Posisi Dolok Martimbang diketahui berada pada ketinggian 1.860 Dpl merupakan wilayah tangkapan air khususnya bagi penduduk yang bermukim dalam wilayah Tiga Desa, yaitu Desa Banuaji I, II dan IV. Gunung Martimbang atau Dolok Martimbang oleh para ahli disebut sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Nama "Dolok Martimbang", konon pernah didaulat sebagai nama pesawat resmi Kepresidenan diawal pemerintahan Presiden Soekarno berkuasa.

Sejak dahulu, warga dari Ketiga desa yang bermukim pada lembah Martimbang dilarang menebang secara sembarangan dan kalaupun lereng gunung itu diusahai tetapi warga hanya diperkenankan berkebun dengan tanaman Kemenyan.

Kronologi:
Berawal dari foto copy surat tertanggal 2 November 2017 bernomor 01/SHB/XI/2017 yang buat oleh oknum Kepala Desa Banuaji II, Dayan Hutapea (DH); yang isinya berupa pengakuan memiliki hak atas tanah seluas 3 HA yang didalamnya ada Pinus dan disebut sebagai hasil budidayanya sendiri.
Selanjutnya, menjawab surat dari DH tersebut,  Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Utara, sebagaimana tertuang dalam suratnya bernomor 522.21/3657: meminta beberapa point persyaratan yang harus dipenuhi oleh DH dan salah satu poinnya meminta agar oknum Kepala Desa Banuaji II itu melengkapi persyaratan dengan membuat surat pernyataan yang diketahui atau disaksikan oleh minimal 2 orang saksi bahwa Pinus yang berada dalam areal lahan seluas 3 hektare yang diakuinya sebagai hak milik adalah murni merupakan hasil tanaman (budidayanya) sendiri.
Aneh bin ajaib, meski belum ada ijin tebang tapi Pinus yang berada dalam hutan lindung itu sudah ditebas tanpa perasaan, tanpa memperhitungkan dampak yang sudah pasti akan muncul, cepat atau lambat.

Pasca Pengoakan Pinus di Lembah Dolok Martimbang empat tahun yang lalu (thn 2014), yang dihentikan oleh warga melalui cara demo, kini, pengrusakan pada lereng Martimbang  kembali terulang.
Pengrusakan kali ini justru lebih massif dan mengerikan karena Pinus yang dibabat berada dalam kemiringan lereng, ditebang tanpa pilih bulu, diratakan tanpa ampun tanpa celah, sehingga dikawatirkan akan terjadi erosi atau akan mendatangkan banjir bandang yang besar yang  akan mengancam ribuan jiwa yang bermukim pada lembahnya

Dilatari rasa kawatir dan tak terima dengan penebangan tersebut, Warga dari ketiga desa melakukan Demo dan memaksa pengusaha Robert Hutauruk(RH) untuk menghentikan aksinya.

Awalnya, demo hari pertama dihadiri oleh sekitar 30 an orang dan bermaksud meninjau Tempat Kejadian Perkara (TKP) lalu memasang Plang larangan percis pada pintu keluar atau jalan masuk alat berat pengangkut kayu Pinus.
Sempat terjadi insiden kecil karena seorang pria (Marga Tobing) yang tinggal disekitar TKP menolak pemasangan Plang tersebut dan membongkarnya.
"Ini tanah saya kenapa kalian tutup jalan ini, jadi turun harga diriku kalian buat," katanya dengan emosional.
Pendemo menjelaskan, bahwa pemasangan plang tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kepada pekerja atau pengusaha  supaya alat berat pengangkut kayu tidak lewat atau beroperasi; bukan untuk menghalangi dirinya. Namun Bapak paroh baya itu tetap membongkar Plang larangan.

"Naung dijalo bayon ma ra batu ni sulang sian pengusaha on ateh," ujar Herdianto Sipahutar, warga Banuaji II. (Kayaknya sudah menerima upeti sikawan ini ya)
Selanjutnya, pendemo memindahkan plang percis di atas alat pengangkut kayu dan tepat pada lokasi penebangan

Tak lama berselang, Pengusaha RH hadir dilokasi karena pendemo meminta supaya ditelp oleh Tobing.
Di hadapan pendemo, awak media Pelita Batak, yang juga berasal dari wilayah tersebut memintai keterangan dari oknum pengusaha sebelum pengusaha Sawmill dari Sipoholon itu hendak beranjak tanpa pamit.

Lebih jauh, awak Pelita Batak menanyakan perihal ijin penebangan sambil merekam dengan video; dimana video itu telah dipublish pada media sosial, dan hingga jumat pagi, telah tayang atau ditonton oleh sekitar 52 ribu orang dan dishare ulang (red= dibagikan) oleh sekitar 300 orang netizen.
Hasil wawancara penulis dengan RH di Tempat Kejadian Perkara (TKP), ternyata  Hutauruk tidak atau belum dapat menunjukkan surat ijin penebangan.
"Surat ijin masih tinggal di rumah kepala desa, saya mau menjemputnya ke sana," ujarnya beralasan.
Hari kedua demo, massa yang ikut berdemo semakin bertambah dan mencapai ratusan orang, padahal menurut laporan salah seorang warga oknum Kades Banuaji I, Ruhut Sipahutar; melarang warganya berdemo dengan menyampaikan bahwa demo itu disebutnya berbau politis karena memang yang menggagas dan mengambil inisiatif untuk melakukan aksi itu, kebetulan merupakan  salah seorang pendukung Pasangan Calon Bupati Taput dan berbeda kubu dengan dukungan oknum Kades.

Pada demo kedua tersebut, hadir Anggota DPRD Taput, Dapot Hutabarat. SE dari Komisi C; Polsek Adiankoting dan dua anggota & Babinsa Adiankoting.
Dari TKP,  Anggota Dewan menelpon Pihak Kehutanan Provinsi meminta agar kegiatan penebangan Pinus dihentikan sampai ada status hukum yang jelas dan karena Anggota Dewan masih akan mengadakan rapat komisi di DPR terkait persoalan perambahan hutan tersebut.

Anggota Dewan juga meminta pihak Kapolres/Kapolsek agar melakukan pengamanan di TKP dan supaya menjamin alat bukti perambahan hutan itu tetap berada di TKP, sesuai dengan permintaan warga pendemo.

Warga sepakat menghentikan Demo untuk sementara waktu dan meminta pihak terkait untuk melakukan tindakan tegas berupa sanksi  keras kepada para perusak lingkungan, dan demi tegaknya aturan hukum serta UU yang berlaku di NKRI.

berita :Jejetobing Sumuntul.

Rinaldy Hoetajoloe/FB.

Friday, 18 May 2018

Enam Potret Pesona Danau Toba Yang Tak Kalah Menarik Untuk Dilihat.

Berbicara tentang keindahan alam Danau Toba, seakan tiada habisnya. Anugerah Ilahi kebanggaan warga Sumatera Utara ini, selalu memiliki sudut demi sudut yang penuh dengan keindahan. Walau terkadang keindahan itu seketika sirna mana kala terdapat pemandangan miris akibat pencemaran dan ketidak pedulian segelintir orang untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Danau Toba, namun pesona keindahan alam Danau Toba masih mudah ditemukan terlebih oleh para photografer profesional maupun amatir yang mencintai keindahan alam Danau Toba.

Dari berbagai sumber khususnya media sosial, kami mengumpulkan sebanyak enam potret  pesona Danau Toba yang di abadikan oleh sejumlah photografer profesional maupun amatir berikut ini.

1. Potret Danau Toba yang di abadikan dari kawasan Huta Ginjang Muara oleh Franshendrik P Tambunan.

2.Potret Danau Toba yang diabadikan dari kawasan Menara Pandang Tele oleh Johnny Siahaan.

3.Potret Danau Toba yang diabadikan dari halaman Tabo Cottage Tuktuk-Simanindo oleh Aquardes Pakpahan.

4.Potret Danau Toba dan Tuktuk Peninsula Samosir yang diabadikan menggunakan drone oleh Andy Siahaan.

5.Potret Danau Toba dan seorang Nelayan yang diabadikan oleh Rizal Naibaho di kawasn Danau Toba Pangururan-Samosir.


6.Potret Danau Toba yang diabadikan dari kawasan Tanjungan oleh Holmes Nainggolan.

Enam Pantai Yang Menarik Untuk Tempat Berlibur Di Kawasan Danau Toba.

Hari libur, merupakan hari yang banyak di tunggu-tunggu oleh berbagai kalangan. Selain bebas dari rutinitas pekerjaan, hari libur juga menjadi suatu kesempatan yang dapat di manfaatkan untuk melepas penat dari sejumlah kesibukan yang terkadang membosankan.

Untuk mengisi hari libur, tentu membutuhkan dana yang mestinya mendukung dengan tempat tujuan berlibur, bagi yang memiliki dana yang cukup maupun lebih, memilih tempat liburan mungkin bukan hal yang sulit. Namun jika memiliki dana yang pas-pasan, tentu akan sedikit mengalami kesulitan untuk menentukan lokasi liburan yang cocok dengan isi kantong.

Kali ini kami akan memberikan beberapa lokasi wisata yang cukup terjangkau bagi anda yang ingin merencanakan atau ingin mengisi hari libur akhir pekan maupun libur lebaran mendatang. 
Ada enam lokasi wisata yang tak kalah menarik untuk di jadikan sebagi salah satu lokasi tujuan liburan anda. Ke enam lokasi wisata ini berada di kawasan Danau Toba.


1. Pantai Pasir Putih Parbaba.
Pantai Pasir Putih Parbaba berada di kawasan Pangururan Samosir yang dapat di tempuh dengan waktu yang relatif dekat dari kawasan pelabuhan penyeberangan Ajibata-Tomok. Sebagai pantai yang mengawali debut kebangkitan pariwisata Samosir di tepian Danau Toba, Pantai Pasir Putih Parbaba tentu sudah tak asing lagi bagi sebagian pengunjung. Klik untuk melihat lokasi


2. Pantai Indah Situngkir.
Pantai Indah Situngkir juga menjadi salah satu tempat tujuan wisata dengan nuansa Danau Toba di Pulau Samosir. Pantai yang jaraknya tak jauh dari pantai Pasir Putih Parbaba ini juga memiliki fasilitas yang dapat bersaing dengan pantai Pasir Putih Parbaba. Pemkab Samosir beberapa kali menyelenggarakan event pariwisata di lokasi PIS. Klik untuk melihat lokasi


3. Pantai Pasir Putih Tanda Rabun.
Pantai yang baru diresmikan ini, baru-baru ini menjadi tuan rumah penyelenggaraan event Festival Gondang Naposo 2018 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir. Lokasinya juga nyaris berdekatan dengan kedua pantai diatas. Klik untuk melihat lokasi


4. Pantai Lumban Bulbul.
Pantai Lumban Bulbul merupakan kawasan objek wisata yang berada di daerah Kabupaten Toba Samosir. Dua tahun terakhir ini nama Pantai Lumban Bulbul kian terkenal berkat penataan lokasinya yang sudah mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Klik untuk melihat lokasi


5. Pantai Bebas Parapat.
Pantai Bebas Parapat merupakan pantai yang kini semakin memikat minat para pengunjung berkat penataan yang semakin bagus pasca penyelenggaraan Karnapal Pesona Danau Toba beberapa tahun lalu. Pantai Bebas Parapat juga menjadi pantai pertama di kawasan Danau Toba yang dikunjungi oleh Presiden Jokowi pada malam perhelatan Pesona Danau Toba beberapa tahun lalu. Klik untuk melihat lokasi.


6. Pantai Indah Sipinggan.
Pantai Indah Sipinggan merupakan kawasan objek wisata baru di daerah Nainggolan-Samosir. Walau masih dalam tahap pengembangan, keberadaan Pantai Indah Sipinggan terbilang cukup menarik perhatian para pengunjung. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kunjungan yang setiap minggunya mengalami peningkatan. Klik untuk melihat lokasi