Monday, 30 April 2018

Ketut: Jejak Budaya dan Arkeologi di Samosir Sangat Unik.

Balai Arkeologi Sumatera Utara temukan bekas perkampungan Batak yang diperkirakan berusia 1.000 tahun di Desa Sianjur Mulamula, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir. Temuan itu merupakan temuan permukiman Batak tertua,  dan menjadi petunjuk asal-usul leluhur Batak.

“Ini juga sejalan  cerita rakyat yang menyebut  leluhur halak (masyarakat) Batak berasal dari Sianjur Mulamula. Kami  akan meneliti lebih lanjut karena penelitian ini menjawab sekaligus menimbulkan pertanyaan,” kata Kepala Balai Arkeologi Sumut Ketut Wiradnyana, di Sianjur Mulamula, Sabtu (28/4/2018).

Ketut mengatakan, hasil penelitian itu memperkaya data arkeologis  penelitian sebelumnya. Pada  2014, Balai Arkeologi Sumut juga melakukan penggalian di Sianjur Mulamula dan menemukan bekas pematang sawah berusia sekitar 600 tahun. Penelitian juga  dilakukan di Situs Pagar Batu berupa perkampungan tua di Kecamatan Simanindo. Hasilnya, permukiman itu diperkirakan berusia sekitar 200 tahun.

“Temuan-temuan ini menjadi petunjuk jalur migrasi leluhur Batak. Perkampungan tertua berada  di Sianjur Mulamula, di tepi Danau Toba yang masih berada di sisi Pulau Sumatera. Dari sana lalu ke Ulu Darat dan menyeberang ke Urat di Pulau Samosir. Dari Urat lalu menyebar ke seluruh Samosir,” katanya.

Menurut Ketut, jejak budaya dan arkeologi di Samosir sangat unik dan masih menyimpan banyak tanya. Di Samosir misalnya, ditemukan peninggalan megalitikum yang  beragam. Untuk wadah kubur saja ada berbagai macam sarkofagus, peti kubur batu, tempayan batu, dan yang lebih modern, ada tambak. Tinggalan megalitik lainnya juga ada lesung dan lumpang, patung, wadah permainan batu dakon, bottean (batu penambat kapal), serta borotan (batu penambat ternak).

Peneliti Balai Arkeologi Sumut, Taufiqurrahman Setiawan, menambahkan, penelitian dilakukan sejak 9 April hingga 1 Mei. Timnya sudah menggali 11 petak, hingga ke lapisan berkedalaman 60 centimeter.  Juga, ditemukan fitur  bekas lubang tiang rumah berdiameter 15-20 sentimeter, sekitar 26 buah di kedalaman 50–60 sentimeter. Di lapisan yang sama juga ditemukan dua umpak batu yang merupakan alas tiang rumah, pecahan tembikar hias berlapis slip merah, dan manik-manik ukuran 1-2 milimeter.

Masih ada penelitian dengan metode lain untuk memastikan usia perkampungan itu. Lapisan arang bekas pembakaran yang mereka temukan di lapisan itu akan diuji laboratorium untuk memastikan usia perkampungan itu.
Arkeolog Senior  Harry Truman Simanjuntak  mengatakan  penggalian arkeologi itu selain menemukan benda-benda peninggalan masa lalu, juga menemukan nilai-nilai luhur dari peradaban masa lalu. “Temuan arkeologi itu menunjukkan bahwa budaya gotong royong, persaudaraan, dan ketekunan, sudah hidup di masyarakat Nusantara sejak dulu,” katanya.

Danton Sagala (57), warga Sianjur Mulamula menuturkan, lokasi galian itu selama ini dipercaya sebagai perkampungan Si Raja Batak. Hingga kini masih banyak halak Batak yang datang ke sana untuk berziarah atau berdoa kepada leluhurnya.  Kemarin, sekitar 400 siswa dari SD, SMP, dan SMA di Samosir diajak untuk melihat dan memahami arti temuan arkeologi itu. (NSA)/Harian KOMPAS



Artikel Terkait


EmoticonEmoticon