Tuesday, 22 May 2018

Hanya dengan beberapa tetes air disertai mantera-mantera, sebuah patung kayu bisa bergerak dengan sendirinya.

Berawal dari sebatang pohon kayu kering yang tak lagi memiliki daun maupun ranting, tampak sangat mencolok di antara pepohonan lain dengan tinggi menyamai ukuran manusia pada umumnya, tidak berdaun dan tidak beranting. Seorang dukun atau datu Panggana memahat batang pohon tersebut menjadi sebuah patung berparas perempuan cantik.
Tak lama kemudian patung hasil pahatan dukun Panggana itu terlihat semakin cantik dan seolah tampak hidup setelah sorang pedagang barang berupa pakaian dan perhiasan emas mencoba mengenakan patung tersebut pakaian dan perhiasan dagangannya. Konon pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh pedagang itu tak lagi bisa dilepas.

Hingga keesokan harinya, seorang dukun bernama Datu Partaoar yang mempunyai keahlian mengobati, memanggil roh dengan menggunakan obat ajaib, melihat patung yang dibuat oleh Datu Panggana itu, iapun merasa kagum dan mencoba menghidupkan patung tersebut dengan kekuatan mistis yang ia miliki. 
Dengan beberapa tetes air disertai mantera-mantera andalannya, patung kayu berparas wanita cantik itupun seketika bergerak dengan sendirinya layaknya manusia. Datu Partaoar pun mebawa pulang patung tersebut kedesanya. Keluarga Datu Partaoar segera melakukan upacara pengangkatan anak terhadap patung kayu yang sudah benar-benar hidup itu lalu diberi nama Nai Manggale.

Kisah perjalanan hidup yang cukup panjang yang dijalani Nai Manggale akhirnya berujung dengan kamatian setelah lama menjalani rumah tangga tanpa keturunan dengan suaminya Datu Partiktik. Namun sebelum akhir hidupnya, Nai Manggale berpesan kepada suaminya agar kelak setelah kematiannya, Datu Panggana berkenan membuatkan patung sebesar dirinya yang nantinya diberi nama Sigalegale.
Setelah kematian Nai Manggale, Datu Partiktik pun segera memenuhi pesan terakhir istrinya hingga patung Sigalegale dibuatkan kembali oleh Datu Panggana.
Demikian penggalan kisah mistis legenda Sigalegale yang di kutip dari berbagai sumber. Kisah legenda Sigalegale ini juga memiliki kisah dengan versi berbeda yang menceritakan tentang seorang raja dan putra kesayangannya. Dengan menggunakan bahan yang sama yaitu kayu, Sigalegale dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, raja dari salah satu kerajaan di Pulau Samosir.

Konon Raja Rahat memimpin negerinya dengan bijaksana. Sayangnya, istri Raja sudah lama meninggal dunia. Raja hanya punya seorang anak lelaki, bernama Manggale. Manggale sangat dihormati dan disegani seluruh rakyat di negeri itu karena ketangkasannya berperang. Ia menjunjung tinggi kebenaran. Sama seperti sang Raja, ayahnya, Manggale pun sangat mencintai rakyatnya.

Ketenteraman di negeri itu terusik ketika suatu hari prajurit membawa berita bahwa di hutan perbatasan berkumpul prajurit negeri tetangga. Prajurit negeri tetangga hendak menyerang, menjarah harta kekayaan yang ada di negeri itu. Tentu saja Raja tidak tinggal diam mendengar kabar itu. Raja mengumpulkan semua penasihat, juga Manggale selaku panglima perang. Setelah semua dipersiapkan, maka berangkatlah Manggale bersama prajurit terbaiknya.

Selama Manggale dan prajurit pergi berperang, hati Raja tidak tenang. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa anak kesayangannya. Sampai kemudian, sebagian prajurit pulang. Tidak ada Manggale di antara mereka. Manggale tewas di medan pertempuran. Raja sangat sedih. Anak kebanggaannya, pewaris kerajaan, telah meninggal dunia. Seluruh rakyat juga sedih dan merasa kehilangan.

Akhirnya, Raja jatuh sakit. Para penasihat Raja sudah memanggil banyak datu, tetapi tidak ada yang mampu menyembuhkan Raja. Seorang datu memberi saran pada penasihat kerajaan untuk membuat patung kayu yang wajahnya sangat mirip dengan wajah Manggale. Penasihat kerajaan mengikuti saran itu. Dipanggilah pemahat terbaik di kerajaan untuk mengerjakan patung itu. Pembuatan patung dilakukan jauh di dalam hutan, karena Manggale tewas di dalam hutan. Jadi, datu meyakini roh Manggale masih berada di dalam hutan itu. Sang pemahat menggunakan kayu pohon nangka sebagai bahan karena kayu nangka sangat keras.

Wajah patung itu sangat mirip dengan wajah Manggale. Kemudian, datu menggelar ritual dengan meniup sordam dan memainkan gondang sabangunan untuk memanggil roh Manggale. Roh Manggale dimasukkan ke dalam patung yang mirip wajahnya itu. Patung itu diangkut menuju istana dengan iringan sordam dan gondang.

Karena patung itu sangat mirip dengan putra kesayangannya yang telah meninggal. Kerinduan sang raja pada Manggale sedikit demi sedikit terobati. Apalagi patung itu bisa menari sendiri karena datu sudah memasukkan roh Manggale ke dalamnya. setiap Raja rindu dengan putranya, ia akan manortor (melakukan tor-tor/menari) bersama patung itu. Seluruh rakyat ikut manortor setiap Raja melakukannya. Kemudian, Raja memberi patung ini nama sigale-gale. Yang artinya, si Lemah-lembut,  atau si lemah lunglai.

Pemahat yang berhasil membuat patung yang mirip wajah Manggale, meninggal dunia tidak lama setelah ia menyelesaikan patung itu. Sampai sekarang, ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat patung sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada patung buatannya supaya patung bisa bergerak seperti hidup. Itulah sebabnya, tidak banyak yang bersedia membuat patung sigale-gale. Kalaupun ada, sebuah patung akan dikerjakan beberapa orang. Ada yang memahat bagian kepala, bagian badan atau bagian kaki. ©wikipedia & facebook

Melalui event pariwisata, kisah legenda Sigalegale dipopulerkan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir sebagai salah satu upaya melestarikan sejarah dan seni budaya di Pulai Samosir.
Dikemas kedalam event pariwisata legenda Sigalegale digelar dengan nama Sigalegale Carnival yang dalam waktu dekat akan dilangsungkan di Pangururan Kabupaten Samosir.
Selain upaya melestarikan seni budaya, Sigalegale Carnival juga menjadi salah satu poin penting yang dinilai mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke pulau yang di kelilingi oleh Danau Toba itu.

Sigalegale Carnival juga merupakan salah satu event pariwisata dari sepuluh event yang di kemas kedalam kalender wisata bertajuk Horas Samosir Fiesta 2018.
Mengangkat kisah perjalanan hidup tokoh Manggale hingga menjadi sebuah patung mistis yang bisa bergerak, Sigalegale Carnival akan digelar pada tanggal 20 Juni 2018 mendatang di Pangururan Samosir. Nah, bagi anda yang ingin mengetahui seperti apa kisah legenda Sigalegale ini, event Sigalegale Carnival 2018 mendatang adalah momen yang tepat, karena kisah perjalanan hidup tokoh Manggale akan di pentaskan lewat drama kolosal.



Artikel Terkait